Guru Dalam Kenangan

Setiap orang yang pernah sekolah tentu punya kenangan tersendiri tentang gurunya dulu. Dan aku percaya, kenangan itu ada yang merupakan kenangan yang manis, dan tak menutup kemungkinan juga ada kenangan yang buruk.

Kenangan burukku tentang guru adalah saat guru olah raga waktu SD yang memukul betisku dengan sapu lidi di hadapan orang banyak atas aduan guru agama. Kesalahanku adalah saat bel berbunyi untuk senam pagi, aku terlambat datang ke lapangan karena dengan kesadaran sendiri mengangkat pagar kayu roboh yang menimpa taman kelasku. Teman yang kuminta untuk membantuku juga mendapat hukuman yang sama. Malu dan sedih....tapi waktu itu aku bisa menahan air mataku. Sungguh, sampai hari ini aku masih menyesali tindakan guruku tersebut. Mengapa mereka tidak menanyakan dulu apa alasanku sampai terlambat datang sebelum memukul?

Ada satu lagi kenangan burukku tentang guru, kali ini saat SMP. Ketika sedang dilaksanakan ujian, guru pengawas ujian yang guru geografi itu meninggalkan ruang ujian. Teman yang ada di depan kebingungan cara mengisi jawabannya. Ia pun menoleh kepadaku dan menanyakan di mana meletakkan jawabannya. Bagiku, ia sama sekali tidak ingin mencontek dariku. Cuma menanyakan cara mengisi, berbeda bukan! Saat itulah guru pengawas tersebut datang dan percaya hanya dari penglihatannya saja. Tanpa ba bi bu.....Ia menuduh kami saling mencontek. Hatiku tidak terima! Meski bukan anak terpintar, tapi aku cukup berani menjawab soal ujian tanpa minta jawaban dari teman. Tapi aku juga bukan anak yang bisa bersikap frontal. Aku terpaksa menerima hukuman. Walau pun bukan hukuman fisik, tapi aku menanggung hukuman psikis. Cap tukang contek menempel dijidatku!

Kenangan manisku saat SD tentang guru adalah ada seorang guru muda yang jadi favorit aku dan teman-teman. Rumahku yang searah dengan rumahnya, maka guruku yang memakai onthel ini mengajakku untuk membonceng di sepedanya itu. Beliau juga selalu secara rutin memberikan peralatan tulis untuk anak-anak yatim di sekolah kami. Aku tahu karena beberapa temanku yang yatim mendapatkan bantuan ini. Sepertinya aku tak ingat kapan beliau marah.

Sewaktu di SMP, guru favoritku adalah guru matematika. Pak guru yang berlogat jawa ini memiliki tubuh kurus. Dengan gayanya itu, teman-teman secara diam-diam memberi gelar “Pak Wayang”. Tapi bagiku, sampai hari ini beliau adalah kenangan yang manis. Beliau memberikan perhatian dan penghargaan kepada siswa yang punya semangat belajar tanpa memandang status keluarga siswa tersebut. Aku yang bukan dari keluarga terpandangpun mendapatkan perhatiannya yang tulus. Sampai hari ini, beliau masih ingat padaku dan selalu menganggapku istimewa. Saat pulang kampung, maka salah satu jadwal kunjungan rutinku adalah silaturahmi ke rumah guruku ini.

Itu hanya beberapa contoh kenanganku. Emosiku naik saat menulis bagian kenangan buruk. Sepertinya kenangan buruk lebih menempel kuat di ingatanku dari pada kenangan manis.

Maka saat aku memutuskan menjadi seorang guru, aku terus mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tak ingin menjadi kenangan buruk bagi anak. Aku ingin anak mengingatku sebagai guru terbaiknya sampai ia dewasa nanti. Kesal sering, marah juga....tapi aku akan terus berusaha melihat sisi baik dan manisnya anak-anak kecil ini. Terus berusaha memberikan yang terbaik dariku dan berharap bisa menjaga sikap perilakuku di hadapan anak-anak. Walau belum bisa seideal guru-guru yang lain, tapi aku berniat untuk terus belajar. Pilihanku hanya satu, menjadi guru dalam kenangan yang manis.

17 Komentar

  • 14 Mar 2011, 10:20 am
    SEMOGA GURU TIDAK ASAL PUKUL YA MBAK ..... ?? kisah sedih yach :cry:
    tidak mudah lo menjadi guru dalam kenangan manis, apa lagi muridnya nuakal-nalakal, salam kenal semoga bisa berbagi
    ...............................
    mohon maaf, mohon bantuan dan doa di
    http://bchree.wordpress.com/2011/03/09/mohon-do%E2%80%99a-dan-bantuannya/
    terima kasih
    • 14 Mar 2011, 7:33 pm
      itulah mas.... kalo jadi yang buruk diingat sama anak sampai ia tua kalo jadi guru yang manis, bisa saja dilupakan anak...hiks
  • 15 Mar 2011, 12:44 pm
    Akan selalu ada guru terfavorit dan sebaliknya akan ada guru yang dikenang dengan "kekurangannya"...

    Saya berharap semoga keputusan saya mengundurkan diri menjadi guru -sejak 2 tahun lalu- meninggalkan kenangan yang baik untuk murid-murid saya... Amin...

    *kangen banget dengan suasana kelas... *saya jadi curcol :)

    Salam kenal...
    • 15 Mar 2011, 7:01 pm
      salam kenal juga.... pasti kangen banget ya....karena aku juga pernah mengundurkan diri jadi guru tapi ga kuat, pengen berteman lagi dengan wajah-wajah lucu anak teka semoga ya anak-anak itu mengingatmu sebagai guru favorit
  • 22 Mar 2011, 4:42 pm
    Saat pulang kampung, maka salah satu jadwal kunjungan rutinku adalah silaturahmi ke rumah guruku ini.

    Ini manis sekali Bu ...
    Sangat manis ...

    Apapun pekerjaan kita ... saya pikir ... hal yang harus kita ingat untuk menjadi penyemangat adalah hal-hal yang positif ... dengan demikian kita jadi terpacu untuk menjadi lebih baik lagi.

    Dan hal positif ini kita tularkan kepada orang lain ... (yang dalam hal ini adalah ... anak-anak didik ibu) ...
    We never know the impact ...
    bisa jadi akan sangat besar sekali pengaruhnya pada hidup anak tersebut di kemudian hari ...

    salam saya Bu
    • 24 Mar 2011, 5:01 am
      saya akan berusaha hati-hati Om... apalagi menyangkut anak-anak terima kasih
Sahabat
Search
Feed

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner